Sabtu, 29 Maret 2014

Possibilities - Freddie Stroma

Don't break my heart before i give it to you
Don't tell me no before i ask you to
Don't say it doesn't fit before you try it on
there's too much to lose to be wrong

and it feels like there's something here
but i wanna see it before it disappears
and if there something real between me and you
well are we both open to

All these possibilities
so many little possibilities
right in front of us
close enough to touch
and far enough to have some time to see
All these possibilities
whoa these possibilities
are written in the stars
we are who we are baby
and i can't help but think that possibly
there's possibilities

Don't give me hope if there's nothing to this
Don't let me in if your not there
what I'm feeling doesn't happen everyday
so baby please play me fair

and it feels like there's something more
than those crazy little crushes I've felt before
when you move in close i can feel the rush
and now we're so close we can touch

All these possibilities
so many little possibilities
right in front of us
close enough to touch
and far enough to have some time to see
All these possibilities
whoa these possibilities
are written in the stars
we are who we are baby
and i can't help but think that possibly
there's possibilities

Knockin - Freddie Stroma

I'm lost in a world that rattles my brain
I'm cleaning up my life from the mess you made
Oh o, Whoa oh-oh o
My soul's in debt but my bills are paid
I'd give anything just to make an escape
Oh-oh o, Whoa oh-oh o

So you can keep knockin', knockin', knockin'
Baby you're knockin'
But there ain't no way I'm ever letting you in
Not again
So keep on knockin', knockin', knockin'
But baby you're better off walking
'Cause I ain't gonna let you in
Never again, no not again

So, so long honey there's no debate
We lived in a dream then faced to fate
Oh o, Whoa oh-oh o
And I'm scared to engage so I stare at the stage
And pour out my heart to the blank of a page
Oh o, Whoa oh-oh o

Ah ah ah

So you can keep knockin', knockin', knockin'
Baby you're knockin'
But there ain't no way I'm ever letting you in
Not again
So keep on knockin', knockin', knockin'
But baby you're better off walking
'Cause I ain't gonna let you in
Never again, no not again

I went out on a limb again
I guess I had to lose to win
I was too confused to know which way to turn
And she could be a millionaire
Be a model I don't care
'Cause baby there's nobody home
Nobody's home, yeah

So you can keep knockin', knockin', knockin'
Baby you're knockin'
But there ain't no way I'm ever letting you in
Not again
So keep on knockin', knockin', knockin'
But baby you're better off walking
'Cause I ain't gonna let you in
Never again, no not again

Rabu, 26 Maret 2014

Si Tukang Ngotot _ Tere Liye

*Si tukang ngotot
Ini kisah lama, ada di buku2 lama, akan saya tuliskan ulang, dan semoga bermanfaat.
Ada seorang pejabat kota yang berilmu tinggi, dia adalah salah-satu murid kesayangan dari seorang guru mahsyur di jaman itu. Kepintarannya telah membawanya menjadi pejabat yang dikenal banyak orang.
Pada suatu hari, pejabat kota ini berkeliling di salah-satu pasar, dan menemukan di sebuah lapak, berkumpul orang ramai yang sepertinya sedang berdebat seru. Sahut2an, ngotot, dengan wajah bersitegang. Ternyata orang2 ini sedang membahas, kita misalkan saja, hewan apa yang paling besar di dunia, di daratan dan di air. Satu orang menyebut gajah, yang lain bilang kerbau (bersikukuh pernah melihat kerbau lebih besar dibanding gajah), yang lainnya menyebut hewan2 lain (juga sambil bersikukuh atas pendapatnya).
Mendekatlah di si pejabat ini, ingin tahu, untuk segera menggeleng setelah tahu apa yang sedang diributkan, pejabat ini bilang, "Hewan paling besar di dunia ini justeru bukan di daratan, melainkan di air." Mayoritas orang2 di lapak tersebut terdiam mendengar pendapat itu, lantas mengangguk setuju--karena orang2 tahu betapa luasnya ilmu si pejabat. Tapi ada satu orang yang tetap ngotot, berseru tidak terima, "Tidak mungkin, hewan paling besar adalah gajah. Mana ada ikan lebih besar dibanding gajah. Yang ada ikan itu paling hanya sebesar betis."
Awalnya, pejabat kota masih sabar melayani seruan2 orang tersebut, untuk pelan tapi pasti mulai terseret ke debat kusir, dan saat dia kehabisan sabar menghadapi orang yang ngotot tersebut, mereka berdua justeru akhirnya saling bertaruh bahwa pendapat masing2 paling benar, dan taruhannya serius sekali. Jika orang yang ngotot di lapak itu benar, maka si pejabat kehilangan jabatannya; dan jika pejabat benar, orang yang ngotot itu bersedia dipancung, kehilangan kepalanya.
Taruhan itu disaksikan orang satu pasar. Dan untuk menentukan siapa yang benar, maka dipanggillah guru mahsyur di jaman itu (yg adalah guru pejabat tersebut). Apapun pendapat guru mahsyur akan jadi keputusan.
Singkat cerita, sang guru tiba di pasar, dijelaskan situasinya. Si pejabat yakin sekali dia akan menang, karena memang pengetahuan yang dimilikinya lebih luas dibanding si tukang ngotot--bahkan si pejabat pernah melihat sendiri ikan paus sebesar perahu besar. Lengang sejenak pasar tersebut, semua menatap sang guru mahsyur. Siapa yang benar? Binatang apa yang paling besar di dunia?
Setelah menghela nafa perlahan, sang guru mahsyur menjawab, "Gajah-lah binatang paling besar."
Sontak berseru rianglah si tukang ngotot, dan terdiamlah si pejabat. Selama ini, apapun yang dikatakan oleh sang guru mahsyur adalah kebenaran, maka tidak ada satupun yang berani membantahnya. Si pejabat hendak protes, tapi dia tidak berani. Apakah gurunya tidak bijak lagi? Apakah gurunya tidak tahu kalau ikan paus lebih besar? Apakah gurunya sudah terlalu tua? Mulai pikun? Maka, dia dicopot sebagai pejabat kota, digantikan oleh si tukang ngotot.
Berbulan2 berlalu sejak kejadian itu, si mantan pejabat kembali menjadi rakyat biasa, kehilangan seluruh kekuasaannya. Sejak hari itu, meski dia tidak berani menyampaikan keberatannya, dia menganggap sang guru mahsyur adalah guru omong kosong saja. Sama sekali tidak mahsyur.
Hingga pada suatu hari, sang guru mahsyur menemui muridnya tersebut. Dan terjadilah dialog sebagai berikut.
"Kenapa kau tidak pernah mengunjungiku?" Sang guru bertanya.
Si mantan pejabat hanya diam, menunduk.
"Setelah berbulan2, apakah kau masih tidak terima atas keputusanku di pasar?"
Si mantan pejabat hanya diam.
"Muridku, ketahuilah, aku hanya punya dua pilihan. Membenarkan pendapat kau, dan itu memang benar, tapi harganya adalah si tukang ngotot itu kehilangan kepalanya. Atau sebaliknya, membenarkan pendapatnya, meski itu keliru sekali, tapi kita tidak harus menyaksikan kepalanya dipancung hari itu. Maka, maafkanlah gurumu yang sudah tua ini, aku memilih yang lebih baik, kau hanya kehilangan jabatan." Sang guru mahsyur menatap muridnya.
Si mantan pejabat akhirnya memperoleh penjelasan tentang kejadian tersebut.
Sang guru mahsyur tersenyum melihat perubahan ekspresi wajah muridnya, "Muridku, ketahuilah, jika ada orang berpengetahuan berdebat dengan orang bodoh, maka yang terjadi bukan si bodoh menjadi pintar, melainkan, yang pintar akan diseret dalam sekali hingga setara bodohnya dengan si bodoh. Sungguh, dalam banyak hal debat kusir bahkan bisa lebih serius lagi ujungnya dibanding taruhan seperti yang kalian lakukan. Kebencian, permusuhan, bahkan peperangan. Hindarilah, meski itu seharga seluruh jabatan yang kau miliki."
Membaca kisah ini, semoga memberikan pemahaman buat siapapun. Kita tidak perlu dianggap pintar, hebat, atau apalah di mata orang lain. Kita juga tidak perlu memaksakan pendapat, penjelasan, pun apalagi sibuk menyanjung bahwa pendapat, kelompok, aliran, dsbgnya kita itu hebat. Karena kalaupun orang2 lain ramai berseru sepakat, hebat, kita sendiri yang tahu persis apakah memang begitu. Dalam banyak hal, kedamaian di dalam hati, selalu lebih penting dibanding soal siapa yang menang, siapa yang kalah.
Kebenaran tetaplah kebenaran, meski dia digenggam oleh orang paling bersahaja di dunia ini.