*Si tukang ngotot
Ini kisah lama, ada di buku2 lama, akan saya tuliskan ulang, dan semoga bermanfaat.
Ada seorang pejabat kota yang berilmu tinggi, dia adalah salah-satu
murid kesayangan dari seorang guru mahsyur di jaman itu. Kepintarannya
telah membawanya menjadi pejabat yang dikenal banyak orang.
Pada
suatu hari, pejabat kota ini berkeliling di salah-satu pasar, dan
menemukan di sebuah lapak, berkumpul orang ramai yang sepertinya sedang
berdebat seru. Sahut2an, ngotot, dengan wajah bersitegang. Ternyata
orang2 ini sedang membahas, kita misalkan saja, hewan apa yang paling
besar di dunia, di daratan dan di air. Satu orang menyebut gajah, yang
lain bilang kerbau (bersikukuh pernah melihat kerbau lebih besar
dibanding gajah), yang lainnya menyebut hewan2 lain (juga sambil
bersikukuh atas pendapatnya).
Mendekatlah di si pejabat ini,
ingin tahu, untuk segera menggeleng setelah tahu apa yang sedang
diributkan, pejabat ini bilang, "Hewan paling besar di dunia ini justeru
bukan di daratan, melainkan di air." Mayoritas orang2 di lapak tersebut
terdiam mendengar pendapat itu, lantas mengangguk setuju--karena orang2
tahu betapa luasnya ilmu si pejabat. Tapi ada satu orang yang tetap
ngotot, berseru tidak terima, "Tidak mungkin, hewan paling besar adalah
gajah. Mana ada ikan lebih besar dibanding gajah. Yang ada ikan itu
paling hanya sebesar betis."
Awalnya, pejabat kota masih sabar
melayani seruan2 orang tersebut, untuk pelan tapi pasti mulai terseret
ke debat kusir, dan saat dia kehabisan sabar menghadapi orang yang
ngotot tersebut, mereka berdua justeru akhirnya saling bertaruh bahwa
pendapat masing2 paling benar, dan taruhannya serius sekali. Jika orang
yang ngotot di lapak itu benar, maka si pejabat kehilangan jabatannya;
dan jika pejabat benar, orang yang ngotot itu bersedia dipancung,
kehilangan kepalanya.
Taruhan itu disaksikan orang satu pasar.
Dan untuk menentukan siapa yang benar, maka dipanggillah guru mahsyur di
jaman itu (yg adalah guru pejabat tersebut). Apapun pendapat guru
mahsyur akan jadi keputusan.
Singkat cerita, sang guru tiba di
pasar, dijelaskan situasinya. Si pejabat yakin sekali dia akan menang,
karena memang pengetahuan yang dimilikinya lebih luas dibanding si
tukang ngotot--bahkan si pejabat pernah melihat sendiri ikan paus
sebesar perahu besar. Lengang sejenak pasar tersebut, semua menatap sang
guru mahsyur. Siapa yang benar? Binatang apa yang paling besar di
dunia?
Setelah menghela nafa perlahan, sang guru mahsyur menjawab, "Gajah-lah binatang paling besar."
Sontak berseru rianglah si tukang ngotot, dan terdiamlah si pejabat.
Selama ini, apapun yang dikatakan oleh sang guru mahsyur adalah
kebenaran, maka tidak ada satupun yang berani membantahnya. Si pejabat
hendak protes, tapi dia tidak berani. Apakah gurunya tidak bijak lagi?
Apakah gurunya tidak tahu kalau ikan paus lebih besar? Apakah gurunya
sudah terlalu tua? Mulai pikun? Maka, dia dicopot sebagai pejabat kota,
digantikan oleh si tukang ngotot.
Berbulan2 berlalu sejak
kejadian itu, si mantan pejabat kembali menjadi rakyat biasa, kehilangan
seluruh kekuasaannya. Sejak hari itu, meski dia tidak berani
menyampaikan keberatannya, dia menganggap sang guru mahsyur adalah guru
omong kosong saja. Sama sekali tidak mahsyur.
Hingga pada suatu hari, sang guru mahsyur menemui muridnya tersebut. Dan terjadilah dialog sebagai berikut.
"Kenapa kau tidak pernah mengunjungiku?" Sang guru bertanya.
Si mantan pejabat hanya diam, menunduk.
"Setelah berbulan2, apakah kau masih tidak terima atas keputusanku di pasar?"
Si mantan pejabat hanya diam.
"Muridku, ketahuilah, aku hanya punya dua pilihan. Membenarkan pendapat
kau, dan itu memang benar, tapi harganya adalah si tukang ngotot itu
kehilangan kepalanya. Atau sebaliknya, membenarkan pendapatnya, meski
itu keliru sekali, tapi kita tidak harus menyaksikan kepalanya dipancung
hari itu. Maka, maafkanlah gurumu yang sudah tua ini, aku memilih yang
lebih baik, kau hanya kehilangan jabatan." Sang guru mahsyur menatap
muridnya.
Si mantan pejabat akhirnya memperoleh penjelasan tentang kejadian tersebut.
Sang guru mahsyur tersenyum melihat perubahan ekspresi wajah muridnya,
"Muridku, ketahuilah, jika ada orang berpengetahuan berdebat dengan
orang bodoh, maka yang terjadi bukan si bodoh menjadi pintar, melainkan,
yang pintar akan diseret dalam sekali hingga setara bodohnya dengan si
bodoh. Sungguh, dalam banyak hal debat kusir bahkan bisa lebih serius
lagi ujungnya dibanding taruhan seperti yang kalian lakukan. Kebencian,
permusuhan, bahkan peperangan. Hindarilah, meski itu seharga seluruh
jabatan yang kau miliki."
Membaca kisah ini, semoga memberikan
pemahaman buat siapapun. Kita tidak perlu dianggap pintar, hebat, atau
apalah di mata orang lain. Kita juga tidak perlu memaksakan pendapat,
penjelasan, pun apalagi sibuk menyanjung bahwa pendapat, kelompok,
aliran, dsbgnya kita itu hebat. Karena kalaupun orang2 lain ramai
berseru sepakat, hebat, kita sendiri yang tahu persis apakah memang
begitu. Dalam banyak hal, kedamaian di dalam hati, selalu lebih penting
dibanding soal siapa yang menang, siapa yang kalah.
Kebenaran tetaplah kebenaran, meski dia digenggam oleh orang paling bersahaja di dunia ini.