Aku hanyalah orang baru di dunia Mesir, tepatnya aku tinggal di bilangan Kairo , dunia baru di kemahasiswaan. Satu yang kutahu, tetiba aku menyukai politik, sedikit, atau mungkin hanya karena kebetulan mengetahui keadaan politik itu sendiri.
Di Indonesia, sama sekali tak pernah tahu bagaimana politik. Aku melongo tidak mengerti melihat pamplet DPRD tersebar di mana-mana. Ahh, Sudahlah, aku tidak mengerti politik, hanya pernah menyukai, itu saja.
Manusia-manusia berdarah di bundaran Rabáh (Hari ini namanya bundaran Hisyam Barakat, bundaran itu sebagai tanda penghargaan dari negara Mesir untuknya). Aku mengecam Al-Sisi waktu itu, beliau petinggi militer yang sekarang menjadi Presiden terpilih Mesiir. Aku marah, ditambah sampai melihat perang sendiri dengan mata telanjang. Ketakutan.
Aku membencinya, aku tidak mengerti dengan orang Mesir. Dan aku bingung ditempatku. Suasana mereda, seorang teman pulang dari Alexandria dan aku bercerita padanya tentang kebencianku pada al-Sisi tentang semuanya.
Aku ditanya, kamu memilih siapa? aku jawab Mursi. Tapi kenyataan yang dia lontarkan membuatku tercerahkan. Di sini lah perang sebenarnya, perang media massa. Bukan perang antara Militer dan rakyat pembela Mursi. Cukup sebagai rahasia.
Aku berpikir, politik memang sangat berbahaya. Di sana aku menjadi belajar, bagaimana untuk tidak langsung men-judge orang. Dan, aku menjadi tidak percaya dengan media massa, yang akhirnya selalu menanyakan keakidannya kepada yang aku percaya bisa dipercaya.
Mesir, dengan pemerintahan Al-Sisi sekarang, tidak sampai setengah tahun, tatanan kota sudah dirapihkan, tempat-tempat umum seperti kampus dan stasiun seperti bertaraf keamanan internasional.
Setiap kejadian kejahatan, para polisi cepat bertindak. Apa lagi yang salah?
Aku sempat heran, saat belanja sayur di pasar. Mata uang Mesir melemah kepada dollar, tapi harga sayur dan lainnya masih stabil bahkan ada yang lebih murah.
Al-Sisi, akhirnya pun, aku setuju. Mesir Aman in syaa Allah.
Di Indonesia, sama sekali tak pernah tahu bagaimana politik. Aku melongo tidak mengerti melihat pamplet DPRD tersebar di mana-mana. Ahh, Sudahlah, aku tidak mengerti politik, hanya pernah menyukai, itu saja.
Manusia-manusia berdarah di bundaran Rabáh (Hari ini namanya bundaran Hisyam Barakat, bundaran itu sebagai tanda penghargaan dari negara Mesir untuknya). Aku mengecam Al-Sisi waktu itu, beliau petinggi militer yang sekarang menjadi Presiden terpilih Mesiir. Aku marah, ditambah sampai melihat perang sendiri dengan mata telanjang. Ketakutan.
Aku membencinya, aku tidak mengerti dengan orang Mesir. Dan aku bingung ditempatku. Suasana mereda, seorang teman pulang dari Alexandria dan aku bercerita padanya tentang kebencianku pada al-Sisi tentang semuanya.
Aku ditanya, kamu memilih siapa? aku jawab Mursi. Tapi kenyataan yang dia lontarkan membuatku tercerahkan. Di sini lah perang sebenarnya, perang media massa. Bukan perang antara Militer dan rakyat pembela Mursi. Cukup sebagai rahasia.
Aku berpikir, politik memang sangat berbahaya. Di sana aku menjadi belajar, bagaimana untuk tidak langsung men-judge orang. Dan, aku menjadi tidak percaya dengan media massa, yang akhirnya selalu menanyakan keakidannya kepada yang aku percaya bisa dipercaya.
Mesir, dengan pemerintahan Al-Sisi sekarang, tidak sampai setengah tahun, tatanan kota sudah dirapihkan, tempat-tempat umum seperti kampus dan stasiun seperti bertaraf keamanan internasional.
Setiap kejadian kejahatan, para polisi cepat bertindak. Apa lagi yang salah?
Aku sempat heran, saat belanja sayur di pasar. Mata uang Mesir melemah kepada dollar, tapi harga sayur dan lainnya masih stabil bahkan ada yang lebih murah.
Al-Sisi, akhirnya pun, aku setuju. Mesir Aman in syaa Allah.