Senin, 07 September 2015

Poli---

Aku hanyalah orang baru di dunia Mesir, tepatnya aku tinggal di bilangan Kairo , dunia baru di kemahasiswaan. Satu yang kutahu, tetiba aku menyukai politik, sedikit, atau mungkin hanya karena kebetulan mengetahui keadaan politik itu sendiri.

Di Indonesia, sama sekali tak pernah tahu bagaimana politik. Aku melongo tidak mengerti melihat pamplet DPRD tersebar di mana-mana. Ahh, Sudahlah, aku tidak mengerti politik, hanya pernah menyukai, itu saja.

Manusia-manusia berdarah di bundaran Rabáh (Hari ini namanya bundaran Hisyam Barakat, bundaran itu sebagai tanda penghargaan dari negara Mesir untuknya).  Aku mengecam Al-Sisi waktu itu, beliau petinggi militer yang sekarang menjadi Presiden terpilih Mesiir. Aku marah, ditambah sampai melihat perang sendiri dengan mata telanjang. Ketakutan.

Aku membencinya, aku tidak mengerti dengan orang Mesir. Dan aku bingung ditempatku. Suasana mereda, seorang teman pulang dari Alexandria dan aku bercerita padanya tentang kebencianku pada al-Sisi tentang semuanya.

Aku ditanya, kamu memilih siapa? aku jawab Mursi. Tapi kenyataan yang dia lontarkan membuatku tercerahkan. Di sini lah perang sebenarnya, perang media massa. Bukan perang antara Militer dan rakyat pembela Mursi. Cukup sebagai rahasia.

Aku berpikir, politik memang sangat berbahaya. Di sana aku menjadi belajar, bagaimana untuk tidak langsung men-judge orang. Dan, aku menjadi tidak percaya dengan media massa, yang akhirnya selalu menanyakan keakidannya kepada yang aku percaya bisa dipercaya.

Mesir, dengan pemerintahan Al-Sisi sekarang, tidak sampai setengah tahun, tatanan kota sudah dirapihkan, tempat-tempat umum seperti kampus dan stasiun seperti bertaraf keamanan internasional.
Setiap kejadian kejahatan, para polisi cepat bertindak. Apa lagi yang salah?
Aku sempat heran, saat belanja sayur di pasar. Mata uang Mesir melemah kepada dollar, tapi harga sayur dan lainnya masih stabil bahkan ada yang lebih murah.

Al-Sisi, akhirnya pun, aku setuju. Mesir Aman in syaa Allah. 

Pernikahan dan Perempuan.

Pernikahan adalah kematian, di mana kita mesti meninggalkan kehidupan kita demi menjalani kehidupan baru dengan orang lain. Di mana kita menjadi seorang istri atau suami orang lain, meninggalkan kebiasaan lama, memulai kebiasaan baru dengan orang lain.
Pernikahan bukan faktor usia, kematian juga tidak mengenal umur. Kematian menanti dan datang jika sudah waktunya. Pernikahan pun akan seperti itu. 

Di usia belasan tahun, seorang perempuan hanya memikirkan bagaimana bahagianya memiliki pasangan, memiliki suami. Nanti dia yang akan menjalani kehidupan, haus untuk disayang. Tidak memikirkan, bagaimana ke depannya dengan dia, mau dibawa kemana pernikahannya, apakah orangtua akan setuju dengan pilihannya. Bagaimana cara mendidik anak dengan benar, bagaimana cara berbakti kepada suami? bagaimana cara menghandle pekerjaan rumah dan belanja rumah?. Yang mungkin mereka tau, mereka bisa disayang dan dicinta oleh suami. Itu juga sudah cukup. 

Memasuki usia 20, pemikiran perempuan akan lebih berkembang. Dia tau, jika rumah tangga ibaratnya perusahaan, suami adalah direkturnya sedangkan dia adalah manager. Dia yang mengatur segalanya, sampai jika pekerjaan rumah, dia yang akan mengerjakan atau dia perlu orang lain untuk membantu, dan suamilah yang akan menyetujui atau tidak. 

Perempuan tahu, jika dia harus menjadi sekolah utama untuk anaknya, suaminya lah yang menjadi kepala sekolahnya. Perempuan tahu, jika suami itu sang Imam dan dia makmum, dia tahu, Imam seperti apa yang dia inginkan. Dia tidak mau menjadi makmum yang membangkang, dan dia akan mencari cara mengetahui   imam yang dia yakin sangat memahami perbedaan antara imam dan makmum.

Perempuan tahu, menikah bukan hanya memilih suami, tapi juga memilih seorang ayah untuk anaknya. Ayah yang akan menyayangi anaknya, menjadi kepala sekolah dan direktur untuk rumah tangga mereka, perempuan lebih memikirkan masa depan meski dia didominasi dengan perasaan. 

Perempuan tahu, dia harus pintar, karena dia  pilar untuk  agama dan bangsanya. Pendidik anak-anaknya, yang juga seorang manusia, rakyat negara dan juga seorang yang beragama. 

Begitulah perempuan, Pernikahan baginya hanyalah kematian, untuk menuju kehidupan baru. Dan kehidupan baru seperti apa yang dia inginkan? Masing-masing perempuan tahu jawabannya sendiri.