Minggu, 29 November 2015

Menjadi single

Air mata mengalir begitu saja di tonjolan kulit wajahku yang mengering, entah perasaan apa menjalar dalam diri. Rasa pahit dan perih menyayat. Aku tak semestinya menangis seperti ini. Ditinggalkan menikah olehnya. Aku hanya merasa sakit yang tidak jelas, tapi ada hal yang akhirnya aku pahami.

Dari awal, aku berpikir siap menjadi seorang istri itu adalah keberanian yang cukup tinggi, berani mengabdi untuk satu jenis makhluk Allah yang bernama lelaki. Dan bagiku, menikah itu bukan hanya menyatukan dua hati dan keluarga, tapi juga menyatukan pemikiran untuk menjadi sepasang orang tua yang bijaksana untuk anak-anak kelak. Bagiku, pernikahan bukan hanya masalah hati, tapi juga peradaban. Di mana kita dituntut menjadi orang tua yang baik untuk anak-anak, dimulai dengan membiasakan diri menjadi baik, mendapat pendidikan yang baik, belajar yang baik, dituntut secara moral, yang nanti ditambah dengan tuntutan materi ketika anak-anak itu ada.

Waktu itu aku tidak menolaknya, aku mencoba memberi pemahaman, jika sebelum menikah dia mesti paham ilmu penting apa yang aku harapkan dimiliki seorang ayah. Seorang ayah harus sehat agar menjadi panutan anak-anak, misalnya.

Aku ingin melanjutkan pendidikanku di Negri ini karena aku memikirkan anak-anakku, aku belum bisa apa-apa yangg aku rasakan, Aku belajar menjadi ibu sebelum menikah, melatih mentalku, membiasakan yang baik-baik. Alasan kenapa aku memilih di sini, dan dia menginginkan aku untuk menemaninya di Indonesia.

Hari ini hatiku agak lega, Allah sedang mengawasi kita, untuk apa kita bersedih. Takdir Allah akan selalu ada hikmahnyaa.

Terimakasih untuk sahabat-sahabat yang mau mendengarkan ocehanku selama ini, dan memberi nasihat-nasihat.  apalagi masalah ini. Sampai ada sahabatku yang menawarkan calon lagi, tapi ternyata calonnya itu udah punya calon :D. Lucu lucuu. Yaa kita butuh penguat untuk setiap masalah.

Aku ingin menikmati sendiriku sekarang, menjadi single lebih aku sukai daripada menjadi ibu yang tidak becus :).

Yang baik itu belum tentu cocok. 

Minggu, 11 Oktober 2015

“Smart Parents Smart Children”



Tidak terasa, sebenarnya waktu kita untuk mendidik anak itu sangatlah singkat.
Saat anak sekolah ditempat jauh, saat anak waktunya kuliah di kota lain, saat ia menikah…
Sangat singkat Bunda!
Gunakanlah waktu sebaik-sebaiknya untuk menanamkan hal baik ke anak, karena tidak terasa, itu akan segera berlalu.
Waktu berharga pengasuhan anak:
7 tahun pertama (0-7 tahun):
Perlakukan anakmu sebagai raja.
Zona merah - zona larangan
jangan marah-marah, jangan banyak larangan, jangan rusak jaringan otak anak.
Pahamilah bahwa posisi anak yang masih kecil, saat itu yang berkembang otak kanannya.
7 tahun kedua (7-14 tahun):
Perlakukan anakmu sebagai pembantu atau tawanan perang.
Zona kuning - zona hati-hati dan waspada.
Latih anak-anak mandiri untuk mengurus dirinya sendiri, mencuci piring, pakaian, setrika, dll.
Banyak pelajaran berharga dalam kemandirian yang bermanfaat bagi masa depannya.
7 tahun ketiga (14-21 tahun):
Perlakukan anak seperti sahabat.
Zona hijau - sudah boleh jalan.
Anak sudah bisa dilepas untuk mandiri. Mereka sudah bisa dilepas sebagai duta keluarga.
7 tahun keempat (21-28 tahun):
Perlakukan sebagai pemimpin.
Zona biru - siap terbang.
Siapkan anak untuk menikah.
Pada masa anak-anak yang berkembang otak kanannya. Otak kiri berkembang saat usianya menjelang 7 tahun. Anak perempuan keseimbangan otak kanan dan kirinya lebih cepat. Sedangkan anak laki lebih lambat. Keseimbangan otak kanan dan kiri pada anak laki-laki baru tercapai sempurna di usia 18 tahun, sedangkan anak perempuan sudah cukup seimbang otak kanan dan kirinya di usia 7 tahun.
Ternyata ada rahasia Allah mengapa diatur seperti itu.
Laki-laki dipersiapkan untuk jadi pemimpin yang tegas dalam mengambil keputusan. Untuk itu, jiwa kreatifitas dan explorasinya harus berkembang pesat. Sehingga pengalaman itu membuatnya dapat mengambil keputusan dengan tenang dan tepat.
Sementara perempuan dipersiapkan untuk jadi pengatur dan manajer yang harus penuh keteraturan dan ketelitian.
Untuk memberi intruksi pada anak, gunakan suara Ayah. Karena suaranya bas, empuk dan enak di dengar.
Kalau suara Ibu memerintah, cenderung melengking seperti biola salah gesek. Itu bisa merusak sel syaraf otak anak. 250rb sel otak anak rusak ketika dimarahin.
Solusinya, Ibu bisa menggunakan bahasa tubuh atau isyarat jika ingin memberikan instruksi.
Suara perempuan itu enak didengar jika digunakan dengan nada sedang. Cocok untuk mendongeng atau bercerita.
Cara berkomunikasi yang efektif dengan anak:
1. Merangkul pundak anak sambil ditepuk lembut.
2. Sambil mengelus tulang punggung anak hingga ke tulang ekor.
3. Sambil mengusap kepala.
Dengan sentuhan ada gelombang yang akan sampai ke otak anak sehingga sel-sel cintanya tumbuh subur.
Sedikit oleh-oleh dari Seminar Parenting  yang diadakan Has Darul Ilmi 12 April 2014. Materi yang sangat bagus untuk para orang tua yang diberikan oleh Bunda Kurnia Widhiastuti dari Sygma Parenting Community.
Demikian sedikit oleh-olehnya. Mudah-mudahan bisa bermanfaat

Senin, 07 September 2015

Poli---

Aku hanyalah orang baru di dunia Mesir, tepatnya aku tinggal di bilangan Kairo , dunia baru di kemahasiswaan. Satu yang kutahu, tetiba aku menyukai politik, sedikit, atau mungkin hanya karena kebetulan mengetahui keadaan politik itu sendiri.

Di Indonesia, sama sekali tak pernah tahu bagaimana politik. Aku melongo tidak mengerti melihat pamplet DPRD tersebar di mana-mana. Ahh, Sudahlah, aku tidak mengerti politik, hanya pernah menyukai, itu saja.

Manusia-manusia berdarah di bundaran Rabáh (Hari ini namanya bundaran Hisyam Barakat, bundaran itu sebagai tanda penghargaan dari negara Mesir untuknya).  Aku mengecam Al-Sisi waktu itu, beliau petinggi militer yang sekarang menjadi Presiden terpilih Mesiir. Aku marah, ditambah sampai melihat perang sendiri dengan mata telanjang. Ketakutan.

Aku membencinya, aku tidak mengerti dengan orang Mesir. Dan aku bingung ditempatku. Suasana mereda, seorang teman pulang dari Alexandria dan aku bercerita padanya tentang kebencianku pada al-Sisi tentang semuanya.

Aku ditanya, kamu memilih siapa? aku jawab Mursi. Tapi kenyataan yang dia lontarkan membuatku tercerahkan. Di sini lah perang sebenarnya, perang media massa. Bukan perang antara Militer dan rakyat pembela Mursi. Cukup sebagai rahasia.

Aku berpikir, politik memang sangat berbahaya. Di sana aku menjadi belajar, bagaimana untuk tidak langsung men-judge orang. Dan, aku menjadi tidak percaya dengan media massa, yang akhirnya selalu menanyakan keakidannya kepada yang aku percaya bisa dipercaya.

Mesir, dengan pemerintahan Al-Sisi sekarang, tidak sampai setengah tahun, tatanan kota sudah dirapihkan, tempat-tempat umum seperti kampus dan stasiun seperti bertaraf keamanan internasional.
Setiap kejadian kejahatan, para polisi cepat bertindak. Apa lagi yang salah?
Aku sempat heran, saat belanja sayur di pasar. Mata uang Mesir melemah kepada dollar, tapi harga sayur dan lainnya masih stabil bahkan ada yang lebih murah.

Al-Sisi, akhirnya pun, aku setuju. Mesir Aman in syaa Allah. 

Pernikahan dan Perempuan.

Pernikahan adalah kematian, di mana kita mesti meninggalkan kehidupan kita demi menjalani kehidupan baru dengan orang lain. Di mana kita menjadi seorang istri atau suami orang lain, meninggalkan kebiasaan lama, memulai kebiasaan baru dengan orang lain.
Pernikahan bukan faktor usia, kematian juga tidak mengenal umur. Kematian menanti dan datang jika sudah waktunya. Pernikahan pun akan seperti itu. 

Di usia belasan tahun, seorang perempuan hanya memikirkan bagaimana bahagianya memiliki pasangan, memiliki suami. Nanti dia yang akan menjalani kehidupan, haus untuk disayang. Tidak memikirkan, bagaimana ke depannya dengan dia, mau dibawa kemana pernikahannya, apakah orangtua akan setuju dengan pilihannya. Bagaimana cara mendidik anak dengan benar, bagaimana cara berbakti kepada suami? bagaimana cara menghandle pekerjaan rumah dan belanja rumah?. Yang mungkin mereka tau, mereka bisa disayang dan dicinta oleh suami. Itu juga sudah cukup. 

Memasuki usia 20, pemikiran perempuan akan lebih berkembang. Dia tau, jika rumah tangga ibaratnya perusahaan, suami adalah direkturnya sedangkan dia adalah manager. Dia yang mengatur segalanya, sampai jika pekerjaan rumah, dia yang akan mengerjakan atau dia perlu orang lain untuk membantu, dan suamilah yang akan menyetujui atau tidak. 

Perempuan tahu, jika dia harus menjadi sekolah utama untuk anaknya, suaminya lah yang menjadi kepala sekolahnya. Perempuan tahu, jika suami itu sang Imam dan dia makmum, dia tahu, Imam seperti apa yang dia inginkan. Dia tidak mau menjadi makmum yang membangkang, dan dia akan mencari cara mengetahui   imam yang dia yakin sangat memahami perbedaan antara imam dan makmum.

Perempuan tahu, menikah bukan hanya memilih suami, tapi juga memilih seorang ayah untuk anaknya. Ayah yang akan menyayangi anaknya, menjadi kepala sekolah dan direktur untuk rumah tangga mereka, perempuan lebih memikirkan masa depan meski dia didominasi dengan perasaan. 

Perempuan tahu, dia harus pintar, karena dia  pilar untuk  agama dan bangsanya. Pendidik anak-anaknya, yang juga seorang manusia, rakyat negara dan juga seorang yang beragama. 

Begitulah perempuan, Pernikahan baginya hanyalah kematian, untuk menuju kehidupan baru. Dan kehidupan baru seperti apa yang dia inginkan? Masing-masing perempuan tahu jawabannya sendiri.