Pernikahan adalah kematian, di mana kita mesti meninggalkan kehidupan kita demi menjalani kehidupan baru dengan orang lain. Di mana kita menjadi seorang istri atau suami orang lain, meninggalkan kebiasaan lama, memulai kebiasaan baru dengan orang lain.
Pernikahan bukan faktor usia, kematian juga tidak mengenal umur. Kematian menanti dan datang jika sudah waktunya. Pernikahan pun akan seperti itu.
Di usia belasan tahun, seorang perempuan hanya memikirkan bagaimana bahagianya memiliki pasangan, memiliki suami. Nanti dia yang akan menjalani kehidupan, haus untuk disayang. Tidak memikirkan, bagaimana ke depannya dengan dia, mau dibawa kemana pernikahannya, apakah orangtua akan setuju dengan pilihannya. Bagaimana cara mendidik anak dengan benar, bagaimana cara berbakti kepada suami? bagaimana cara menghandle pekerjaan rumah dan belanja rumah?. Yang mungkin mereka tau, mereka bisa disayang dan dicinta oleh suami. Itu juga sudah cukup.
Memasuki usia 20, pemikiran perempuan akan lebih berkembang. Dia tau, jika rumah tangga ibaratnya perusahaan, suami adalah direkturnya sedangkan dia adalah manager. Dia yang mengatur segalanya, sampai jika pekerjaan rumah, dia yang akan mengerjakan atau dia perlu orang lain untuk membantu, dan suamilah yang akan menyetujui atau tidak.
Perempuan tahu, jika dia harus menjadi sekolah utama untuk anaknya, suaminya lah yang menjadi kepala sekolahnya. Perempuan tahu, jika suami itu sang Imam dan dia makmum, dia tahu, Imam seperti apa yang dia inginkan. Dia tidak mau menjadi makmum yang membangkang, dan dia akan mencari cara mengetahui imam yang dia yakin sangat memahami perbedaan antara imam dan makmum.
Perempuan tahu, menikah bukan hanya memilih suami, tapi juga memilih seorang ayah untuk anaknya. Ayah yang akan menyayangi anaknya, menjadi kepala sekolah dan direktur untuk rumah tangga mereka, perempuan lebih memikirkan masa depan meski dia didominasi dengan perasaan.
Perempuan tahu, dia harus pintar, karena dia pilar untuk agama dan bangsanya. Pendidik anak-anaknya, yang juga seorang manusia, rakyat negara dan juga seorang yang beragama.
Begitulah perempuan, Pernikahan baginya hanyalah kematian, untuk menuju kehidupan baru. Dan kehidupan baru seperti apa yang dia inginkan? Masing-masing perempuan tahu jawabannya sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar