Kamis, 27 Juni 2013

Langit yang berbeda 1 (chapter 2)

Tiga hari ini tidak ada pesan dari dia, biasanya dia sms walau hanya mengucapkan selamat malam meski aku aku tidak membalasnya. aku buka jejaring sosial, tidak ada satu pun pesan darinya. aku melihat profil di facebooknya, dia mengganti foto profilnya dengan foto bunga sepatu dua hari yang lalu, itu saja yang terlihat setelah seminggu ini aku tidak menghubunginya karena sibuk dengan kerjaan di counterku. Mentari sahabatku, kita sudah lama akrab, . Jam menunjukkan pukul sembilan malam, aku menulis sms untuknya, sms seperti yang biasa dia kirimkan untukku sebelum dia beristirahat. 
"bismika allahumma ahya wa amut" sms terkirim.
ddrrrrzzz...ddrrzz.. ddrrrzz hpku bergetar semenit kemudian, ada balasan dari dia rupanya.
"Aku belum tidur, Ka." pesan yang terlihat di layar hpku. tanpa berpikir lagi aku menelponnya, langsung di angkat olehnya.
"Assalamu'alaikum" suara Mentari di seberang sana.
"Wa'alaikumsalam, gimana kabar Mentari ? kenapa belum tidur? " tanyaku, membetulkan kaca mata yang sebenarnya tidak salah letaknya, duduk di pinggir ranjangku yang kasurnya memakai spray buatan Mentari. Mentari memberiku spray waktu ulang tahunku yang ke 21 sebulan yang lalu, dan aku membalasnya dengan mengajak dia ke pantai. Aku tahu Mentari belum pernah menyentuh air laut, walau dia pernah ke pantai di kota tempat tinggalnya.
"kabut juga kenapa belum tidur ? " tanyanya.
"Ini di tanya malah balik nanya sih." jawabku dengan nada bercanda.
"Oke oke, aku baik-baik aja. ini baru pulang dari rumah sakit" jawabnya singkat.
"Siapa yang di rumah sakit ?" tanyaku lagi tanpa membalas pertanyaannya yang tadi.
"Saudara, dua hari kemarin diare. aku yang ngurusin. sekarang udah bisa pulang." Mentari menjawab agak datar, mungkin dia kecapekan.
"Alhamdulillah, ehh udah ngantuk?" tanyaku enggan.
"Engga, tumben sih nelpon ? "
"Kangen aja, kamu kangen ga ama aku ?"
"Enggaa,,, hha " aku dengar dia tertawa di ujung sana. aku menyimpulkan senyum, aku yakin dia juga merindukanku.
"Hmmm... kabut sayang Mentari" ujarku menghentikan tawanya. Mentari tidak menjawab, diam yang ada. aku memang menyayanginya, bagiku Mentari bukan sekedar sahabat tapi kekasih hatiku sekaligus.
"Kamu sayang ama aku ga ?" lanjutku.
"Lho kok tiba-tiba nanya itu, Ka?" dia protes.
"sayang ga ama aku?" aku mengulang pertanyaanku dengan nada bercanda sekarang.
"Iya" jawabnya seperti tertahan, seperti takut di dengar oleh orang lain atau bahkan takut cicak pun mendengar.
"iya apa?" aku mencoba membuat santai.
"lho tadi nanya apa?" jawabnya dengan pertanyaan dan suara yang lemah. entah karena detakan jantung yang tidak beraturan sapertiku saat ini. entah karena dia mengantuk. sesaat sunyi, aku tidak menjawab pertanyaannya.
"Iya, sebagai sahabat" celotehnya memecah sunyi.
kalo sayang cium aku dong" pintaku, sambil aku tersenyum. berusaha menyembuyika luka yang barusan tergores, dia mengaku menganggapku sebagai sahabat saja. Dia tidak menjawab.
"Ayo dong" suaraku sedikit merengek.
"Engga, Kabut."
"Ayolah, kan ga beneran. cuma di telpon aja"
"tetep engga, bandel ya Kabut ni"
"hmm, yaudah. aku ngantuk. tidur duluan ya"
"oke"

Langit yang berbeda 1

"Tetapi Allah akan mengganti apa yang telah hilang dengan yang lebih baik, bukan ? " tanya Mentari seraya menoleh ke arahku dengan wajah berseri-seri. aku mengangguk dan kulebarkan senyumku. Dia merenggangkan tangannya menghadap laut. aku memandanginya, ada damai yang terlihat sekarang, meski luka itu jelas masih nampak di tingkahnya yang berusaha tertawa dengan joke-joke yang agak konyol.
"hmmm,, kita nulis nama kita yuk? " ajaknya, sambil berjongkok, tangan kanannya mengambil cangkang kerang putih.
"pake ini" lanjutnya dengan senyum menghias wajah imutnya yang sekarang mulai terlihat dewasa, sambil mengangkat cangkang kerang putih itu ke atas.
"jangan nama kita, nanti kandas disapu ombak" ujarku, menatap matanya yang menembus penglihatanku.
"trus apa dong ? " dia cemberut.
"nama dia aja, biar terhapus dari hatimu". aku menahan tawa melihat kerlingnya. tapi akhirnya dia mengangguk dan menulis nama lelaki itu di pasir pantai.


Di pasir itu kini ada tulisan "langit", dia berdiri lalu memotretnya 
beberapa kali. Matahari 
mulai naik, terlihat lebih tinggi dari
tadi waktu kita mengambil fotonya.
"Coba fotonya kalo ada ombaknya Ri" ujarku, ku biarkan ombak-ombak menyentuh kakiku yang sudah tidak beralas. sepatuku di tangan kananku.
"iya yaa,, aku nunggu ombaknya dateng ke sini" , Mentari siap dengan kamera di tangan melangkah mundur. aku menatapnya, dia menoleh ke arahku dan tersenyum. ombak datang menyapu "langit" yang dia tulis itu.
"AAhh,, kehapus semua." dia menghela nafas.
"Aku fotoin kamu aja , Ka" ujarnya seraya menyimpulkan senyum. aku disuruhnya agak ke tengah setelah air laut sebatas lututku baru dia menyuruhku berhenti.
"Sipp, di sana" teriaknya. aku berpose. dia mengacungkan jempol dan dengan gayanya dia memotretku.
"Sudah" teriaknya lagi. dia duduk di tempatnya berdiri. aku berjalan ke arahnya dan duduk di samping kanannya. dia melihat-lihat hasil jepretannya.
"mana yang barusan?" tanyaku sambil mencoba merebut kamera.
"bentar dulu" jawabnya dan menjauhkan kamera ke arah kirinya dengan senyum khas nya.
"Aku suka kabut, liat langit nya sekarang berkabut ga terlalu biru". ungkapnya dengan mata menerawang ke ujung laut tengah itu. ada kapal warna putih terlihat di ujung laut seperti berbatasan antara laut dan langit.
"Ehem kabut itu apa kabut aku? " godaku. menoleh ke arahnya yang ternyata menoleh ke arahku juga.
"Hhhaaa,, dua-duanya deh"


Aku menyukai pipinya yang merona merah ketika tertawa itu. Dia mengubah posisi duduknya, sekarang bersila. terlihat pasir menempel di celana hitamnya yang basah oleh air laut.
"foto ini bagus kan? " Mentari memperlihatkan foto matahari terbit yang di sampingnya ada laut dan beberapa orang yang sedang berenang di belakang dia dengan pose berdiri.
"siapa dulu yang moto? " aku balik bertanya.
"kabut, ahh narsis deh mulai. nih !" dia memberikan kamera tanpa melihat ke arahku. aku mengambilnya. Dia berdiri lalu berjalan ke depan, membiarkan air laut membasahi betisnya. bermain ombak dengan menendang-nendang ombak yang datang. aku memotretnya dari belakang, dia berkerudung coklat muda 
dan baju coklat, warna kesukaannya.