Tiga hari ini tidak ada pesan dari dia, biasanya dia sms walau hanya mengucapkan selamat malam meski aku aku tidak membalasnya. aku buka jejaring sosial, tidak ada satu pun pesan darinya. aku melihat profil di facebooknya, dia mengganti foto profilnya dengan foto bunga sepatu dua hari yang lalu, itu saja yang terlihat setelah seminggu ini aku tidak menghubunginya karena sibuk dengan kerjaan di counterku. Mentari sahabatku, kita sudah lama akrab, . Jam menunjukkan pukul sembilan malam, aku menulis sms untuknya, sms seperti yang biasa dia kirimkan untukku sebelum dia beristirahat.
"bismika allahumma ahya wa amut" sms terkirim.
ddrrrrzzz...ddrrzz.. ddrrrzz hpku bergetar semenit kemudian, ada balasan dari dia rupanya.
"Aku belum tidur, Ka." pesan yang terlihat di layar hpku. tanpa berpikir lagi aku menelponnya, langsung di angkat olehnya.
"Assalamu'alaikum" suara Mentari di seberang sana.
"Wa'alaikumsalam, gimana kabar Mentari ? kenapa belum tidur? " tanyaku, membetulkan kaca mata yang sebenarnya tidak salah letaknya, duduk di pinggir ranjangku yang kasurnya memakai spray buatan Mentari. Mentari memberiku spray waktu ulang tahunku yang ke 21 sebulan yang lalu, dan aku membalasnya dengan mengajak dia ke pantai. Aku tahu Mentari belum pernah menyentuh air laut, walau dia pernah ke pantai di kota tempat tinggalnya.
"kabut juga kenapa belum tidur ? " tanyanya.
"Ini di tanya malah balik nanya sih." jawabku dengan nada bercanda.
"Oke oke, aku baik-baik aja. ini baru pulang dari rumah sakit" jawabnya singkat.
"Siapa yang di rumah sakit ?" tanyaku lagi tanpa membalas pertanyaannya yang tadi.
"Saudara, dua hari kemarin diare. aku yang ngurusin. sekarang udah bisa pulang." Mentari menjawab agak datar, mungkin dia kecapekan.
"Alhamdulillah, ehh udah ngantuk?" tanyaku enggan.
"Engga, tumben sih nelpon ? "
"Kangen aja, kamu kangen ga ama aku ?"
"Enggaa,,, hha " aku dengar dia tertawa di ujung sana. aku menyimpulkan senyum, aku yakin dia juga merindukanku.
"Hmmm... kabut sayang Mentari" ujarku menghentikan tawanya. Mentari tidak menjawab, diam yang ada. aku memang menyayanginya, bagiku Mentari bukan sekedar sahabat tapi kekasih hatiku sekaligus.
"Kamu sayang ama aku ga ?" lanjutku.
"Lho kok tiba-tiba nanya itu, Ka?" dia protes.
"sayang ga ama aku?" aku mengulang pertanyaanku dengan nada bercanda sekarang.
"Iya" jawabnya seperti tertahan, seperti takut di dengar oleh orang lain atau bahkan takut cicak pun mendengar.
"iya apa?" aku mencoba membuat santai.
"lho tadi nanya apa?" jawabnya dengan pertanyaan dan suara yang lemah. entah karena detakan jantung yang tidak beraturan sapertiku saat ini. entah karena dia mengantuk. sesaat sunyi, aku tidak menjawab pertanyaannya.
"Iya, sebagai sahabat" celotehnya memecah sunyi.
ddrrrrzzz...ddrrzz.. ddrrrzz hpku bergetar semenit kemudian, ada balasan dari dia rupanya.
"Aku belum tidur, Ka." pesan yang terlihat di layar hpku. tanpa berpikir lagi aku menelponnya, langsung di angkat olehnya.
"Assalamu'alaikum" suara Mentari di seberang sana.
"Wa'alaikumsalam, gimana kabar Mentari ? kenapa belum tidur? " tanyaku, membetulkan kaca mata yang sebenarnya tidak salah letaknya, duduk di pinggir ranjangku yang kasurnya memakai spray buatan Mentari. Mentari memberiku spray waktu ulang tahunku yang ke 21 sebulan yang lalu, dan aku membalasnya dengan mengajak dia ke pantai. Aku tahu Mentari belum pernah menyentuh air laut, walau dia pernah ke pantai di kota tempat tinggalnya.
"kabut juga kenapa belum tidur ? " tanyanya.
"Ini di tanya malah balik nanya sih." jawabku dengan nada bercanda.
"Oke oke, aku baik-baik aja. ini baru pulang dari rumah sakit" jawabnya singkat.
"Siapa yang di rumah sakit ?" tanyaku lagi tanpa membalas pertanyaannya yang tadi.
"Saudara, dua hari kemarin diare. aku yang ngurusin. sekarang udah bisa pulang." Mentari menjawab agak datar, mungkin dia kecapekan.
"Alhamdulillah, ehh udah ngantuk?" tanyaku enggan.
"Engga, tumben sih nelpon ? "
"Kangen aja, kamu kangen ga ama aku ?"
"Enggaa,,, hha " aku dengar dia tertawa di ujung sana. aku menyimpulkan senyum, aku yakin dia juga merindukanku.
"Hmmm... kabut sayang Mentari" ujarku menghentikan tawanya. Mentari tidak menjawab, diam yang ada. aku memang menyayanginya, bagiku Mentari bukan sekedar sahabat tapi kekasih hatiku sekaligus.
"Kamu sayang ama aku ga ?" lanjutku.
"Lho kok tiba-tiba nanya itu, Ka?" dia protes.
"sayang ga ama aku?" aku mengulang pertanyaanku dengan nada bercanda sekarang.
"Iya" jawabnya seperti tertahan, seperti takut di dengar oleh orang lain atau bahkan takut cicak pun mendengar.
"iya apa?" aku mencoba membuat santai.
"lho tadi nanya apa?" jawabnya dengan pertanyaan dan suara yang lemah. entah karena detakan jantung yang tidak beraturan sapertiku saat ini. entah karena dia mengantuk. sesaat sunyi, aku tidak menjawab pertanyaannya.
"Iya, sebagai sahabat" celotehnya memecah sunyi.
kalo sayang cium aku dong" pintaku, sambil aku tersenyum. berusaha menyembuyika luka yang barusan tergores, dia mengaku menganggapku sebagai sahabat saja. Dia tidak menjawab.
"Ayo dong" suaraku sedikit merengek.
"Engga, Kabut."
"Ayolah, kan ga beneran. cuma di telpon aja"
"tetep engga, bandel ya Kabut ni"
"hmm, yaudah. aku ngantuk. tidur duluan ya"
"Ayo dong" suaraku sedikit merengek.
"Engga, Kabut."
"Ayolah, kan ga beneran. cuma di telpon aja"
"tetep engga, bandel ya Kabut ni"
"hmm, yaudah. aku ngantuk. tidur duluan ya"
"oke"