Kamis, 27 Juni 2013

Langit yang berbeda 1

"Tetapi Allah akan mengganti apa yang telah hilang dengan yang lebih baik, bukan ? " tanya Mentari seraya menoleh ke arahku dengan wajah berseri-seri. aku mengangguk dan kulebarkan senyumku. Dia merenggangkan tangannya menghadap laut. aku memandanginya, ada damai yang terlihat sekarang, meski luka itu jelas masih nampak di tingkahnya yang berusaha tertawa dengan joke-joke yang agak konyol.
"hmmm,, kita nulis nama kita yuk? " ajaknya, sambil berjongkok, tangan kanannya mengambil cangkang kerang putih.
"pake ini" lanjutnya dengan senyum menghias wajah imutnya yang sekarang mulai terlihat dewasa, sambil mengangkat cangkang kerang putih itu ke atas.
"jangan nama kita, nanti kandas disapu ombak" ujarku, menatap matanya yang menembus penglihatanku.
"trus apa dong ? " dia cemberut.
"nama dia aja, biar terhapus dari hatimu". aku menahan tawa melihat kerlingnya. tapi akhirnya dia mengangguk dan menulis nama lelaki itu di pasir pantai.


Di pasir itu kini ada tulisan "langit", dia berdiri lalu memotretnya 
beberapa kali. Matahari 
mulai naik, terlihat lebih tinggi dari
tadi waktu kita mengambil fotonya.
"Coba fotonya kalo ada ombaknya Ri" ujarku, ku biarkan ombak-ombak menyentuh kakiku yang sudah tidak beralas. sepatuku di tangan kananku.
"iya yaa,, aku nunggu ombaknya dateng ke sini" , Mentari siap dengan kamera di tangan melangkah mundur. aku menatapnya, dia menoleh ke arahku dan tersenyum. ombak datang menyapu "langit" yang dia tulis itu.
"AAhh,, kehapus semua." dia menghela nafas.
"Aku fotoin kamu aja , Ka" ujarnya seraya menyimpulkan senyum. aku disuruhnya agak ke tengah setelah air laut sebatas lututku baru dia menyuruhku berhenti.
"Sipp, di sana" teriaknya. aku berpose. dia mengacungkan jempol dan dengan gayanya dia memotretku.
"Sudah" teriaknya lagi. dia duduk di tempatnya berdiri. aku berjalan ke arahnya dan duduk di samping kanannya. dia melihat-lihat hasil jepretannya.
"mana yang barusan?" tanyaku sambil mencoba merebut kamera.
"bentar dulu" jawabnya dan menjauhkan kamera ke arah kirinya dengan senyum khas nya.
"Aku suka kabut, liat langit nya sekarang berkabut ga terlalu biru". ungkapnya dengan mata menerawang ke ujung laut tengah itu. ada kapal warna putih terlihat di ujung laut seperti berbatasan antara laut dan langit.
"Ehem kabut itu apa kabut aku? " godaku. menoleh ke arahnya yang ternyata menoleh ke arahku juga.
"Hhhaaa,, dua-duanya deh"


Aku menyukai pipinya yang merona merah ketika tertawa itu. Dia mengubah posisi duduknya, sekarang bersila. terlihat pasir menempel di celana hitamnya yang basah oleh air laut.
"foto ini bagus kan? " Mentari memperlihatkan foto matahari terbit yang di sampingnya ada laut dan beberapa orang yang sedang berenang di belakang dia dengan pose berdiri.
"siapa dulu yang moto? " aku balik bertanya.
"kabut, ahh narsis deh mulai. nih !" dia memberikan kamera tanpa melihat ke arahku. aku mengambilnya. Dia berdiri lalu berjalan ke depan, membiarkan air laut membasahi betisnya. bermain ombak dengan menendang-nendang ombak yang datang. aku memotretnya dari belakang, dia berkerudung coklat muda 
dan baju coklat, warna kesukaannya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar