Ini
adalah tulisan ulang selebaran dari acara seminar kepenulisan
yang diadakan di salah satu gedung Universitas Pendidikan Indonesia, sekitar bulan
Februari 2010. Dengan tutor Ibu Naning Pranoto, dan majalah remaja Aneka Yes!
yang menjadi penyelenggaranya. Dalam acara ini hadir pula pemimpin redaksi
Aneka Yes! saat itu dan editor di majalah Aneka Yes! dan Keren Beken yaitu Mbak Vivid F. Argarini. Hadir pula sang penulis novel
“Jangan Beri Aku Narkoba”
Alberthiene Endah yang minta dipanggil Mbak “AE saja”. Peserta acara adalah
pelajar tingkat sekolah menengah atas domisili Bandung dan
mahasiswa-mahasiswi Universitas Pendidikan Indonesia Bandung.
Diary, Sahabat
Remaja
- Akar kata diary – diaria
(bahasa Latin) artinya “masukan” sehari-hari selama 24 jam secara berkesinambungan.
- Arti “masukan” di sini adalah
peristiwa yang bersifat sangat pribadi untuk dicurahkan dalam suatu catatan
secara rutin –catatan curhat, maka diary disebut sahabat, khususnya sahabat
remaja.
- Kitty,
pillow-book, pillow-pig, brew, dan magic-pouch
sebutan lain untuk diary.
Fungsi Diary
-Terapi jiwa (mengurangi kesedihan, tekanan bathin,, rasa takut yang berkepanjangan dan kegelisahan).
- Berekspresi
(suka, duka, ragu, kreativitas, cita-cita, harapan dan penyesalan dll).
-
Menulis otobiografi (sumber untuk menulis kisah
nyata dan perjalanan hidup).
- Sumber tulisan: untuk menulis
lirik lagu, puisi, cerpen, cerpan, novelette, dan novel.
Pelopor
Pemanfaatan Diary
-Samuel Pepys—penulis kelahiran Inggris 23 Februari 1633, sosialisasikan diary sebagai sumber cerita,
pada abad ke 17. Ia dijuluki ‘Bapak
Diary’. Jejaknya
diikuti Anne Frank yang menulis catatan hariannya berjudul The Diary
of a young Girl Anne Frank. Buku
ini menggoncang dunia sebagai buku sangat laris.
Jika Diary akan
dijadikan cerita
- Gaya penulisan terarah dan terpola.
- Penggunaan bahasa – indah, lincah,
kuat dan komunikatif.
-Ungkapkan dengan ekspresif –tidak
sekedar menceritakan tetapi melukiskan.
- Cantumkan tanggal kejadian, tempat,
siapa saja yng terlibat (tokoh-tokohnya).
-Detail (misalnya: busana, mood,
food, drink, transportasi, sarana, fasilitas, dll).
Jika Diary dijadikan
sumber cerita
-Ditulis dengan sejujurnya (tidak
usah dimanipulasi) dan akan disunting seperlunya (sesuai keperluan).
- Peristiwa yang ditulis tidak
diulang-ulang.
- Cantumkan orang-orang yang terkait
dalam peristiwa yang terjadi – siapa yang termasuk antagonis, protagonis, atau
paduan keduanya. Bahkan mungkin
akan hadir sebagai tokoh aneh.
- Semua digali sebagai sumber
cerita.
Jika Diary sebagai
‘keranjang sampah’
-Ada yang beranggapan diary sebagai rubishbin
(keranjang sampah) – maka fungsinya benar-benar sebagai tempat untuk membuang
‘unek-unek perasaan’. Maka isinya tidak hanya sekedar curhat yang bersifat
melankolis akan tetapi juga makian, umpatan, ancaman, hardikan, dan sejenisnya.
Diary jenis ini biasanya untuk cawan penadah kemarahan. Fungsinya
meredam emosi.
Genre cerita
yang lahir dari Diary
-Romantis (fiksi)
- Melankolis (fiksi)
- Petualangan (fiksi dan nonfiksi).
- Otobiografi (nonfiksi/true
story).
- Biografi (nonfiksi/true story).
- Feature
Profile ( cerita tentang tokoh).
- Feature
Story (kisah-kisah menarik).
Mengolah Diary sebagai
Story
-Tentukan bentuknya: lirik lagu,
cerpen, cerpan, novelette atau novel atau yang bersifat nonfiksi.
- Pilih bagian isi diary yang paling
menarik pembaca jika dijadikan cerita.
- Polakan sebagai cerita sesuai bentuk
yang dipilihh –fokus cerita fiksi.
- Utamakan unsure logika (masuk
akal).
- Pikirkan, siapa sasaran pembacanya
?.
- Gunakan bahasa yang sesuai dengan
target pembacanya.
Elemen Cerita
-Media – bahasa (modal kata-kata).
- Gaya penulisan.
-Gaya bertutur (sudut pandang).
- Plot.
-Struktur cerita.
- Setting.
- Tokoh.
- Konflik.
- Mood.
Diberi ‘ruh’
dan ‘sosok’
-Jika diary dijadika karya fiksi
maka harus diberi ‘ruh’ dan ‘sosok’.
-Sumber ‘ruh’ dan ‘sosok’ adalah
imajinasi dan curahan perasaan (buah dari olah rasa) – ini yang menghidupkan
tulisan yang semula hanya biasa-biasa saja menjadi luar biasa (mengaduk-aduk
perasaan pembaca).
- Ciptakan konflik (membuat pembaca
gemas, benci, terharu, dan antipati).
Proses menulis
-Mapping Mind (menulis dalam kepala).
- Plotting.
- Cipta Judul (untuk merangsang
imajinasi) – ideal terdiri atas 1-5 kata (catcthy).
-Mulai menulis cerita sangat pendek
disebut flash hanya 100-1000
kata, baru tingkatkan menulis cerpen dalam jumlah kata yang lebih banyak.
- Hindari membaca karya yang belum
selesai.
Agar menulis lancar
-Menulis pada jam-jam produktif (the golden time) – masing-masing orang
berbeda.
-Kenali diri Anda, sebagaiu
pengarang ‘nafas pendek’ atau ‘nafas panjang’.
-Perlu dipahami, setiap orang punya
cara tersendiri dalam ‘proses kreatif’.
- Hindari kebuntuan atau writer’s
block.
Pendukung
pengembangan menulis
-Banyak membaca (berbagai jenis bacaan).
-Banyak
bergaul/sosialisasi.
-Melakukan banyak perjalanan/travelling.
-Suka mendengar, suka mengamati, suka menganalisis untuk dipelajari
dan mencipta.
- Tahan kritik.
-Tidak haus pujian.
-Punya ambisi memiliki karya.
Karya yang
tidak disukai pembaca
-Gaya penulisannya bertele-tele.
-Ceritanya jumble (ruwet).
- Isinya menggurui.
- Terlalu banyak menggunakan flashback.
Bahasa yang dipergunakan
menulis dianggap kaku, sulit dipahami atau banyak menggunakan
jargon/kata-kata asing.
- Menampilkan tokoh yang biasa,
setting biasa, mengangkat tema biasa.
Ada pertanyaan ?
Silahkan e-mail ke funwritingyess2@gmail.com
@copyright Naning Pranoto 2010


Tidak ada komentar:
Posting Komentar