Kamis, 10 Oktober 2013

FROM DIARY TO BE STORY

Ini adalah tulisan ulang selebaran dari acara seminar kepenulisan yang diadakan di salah satu gedung Universitas Pendidikan Indonesia, sekitar bulan Februari 2010. Dengan tutor Ibu Naning Pranoto, dan majalah remaja Aneka Yes! yang menjadi penyelenggaranya. Dalam acara ini hadir pula pemimpin redaksi Aneka Yes! saat itu dan editor di majalah Aneka Yes! dan Keren Beken yaitu Mbak Vivid  F. Argarini. Hadir pula sang penulis novel “Jangan Beri Aku Narkoba” Alberthiene Endah yang minta dipanggil Mbak “AE saja”. Peserta acara adalah pelajar tingkat sekolah menengah atas domisili Bandung dan  mahasiswa-mahasiswi Universitas Pendidikan Indonesia Bandung.

Diary, Sahabat Remaja
- Akar kata diary diaria (bahasa Latin) artinya “masukan” sehari-hari selama 24 jam secara berkesinambungan.
- Arti “masukan” di sini adalah peristiwa yang bersifat sangat pribadi untuk dicurahkan dalam suatu catatan secara rutin –catatan curhat, maka diary disebut sahabat, khususnya sahabat remaja.
- Kitty, pillow-book, pillow-pig, brew, dan magic-pouch sebutan lain untuk diary.

Fungsi Diary
-Terapi jiwa (mengurangi kesedihan, tekanan bathin,, rasa takut yang berkepanjangan dan kegelisahan).
- Berekspresi (suka, duka, ragu, kreativitas, cita-cita, harapan dan penyesalan dll).
- Menulis otobiografi (sumber untuk menulis kisah nyata dan perjalanan hidup).
- Sumber tulisan: untuk menulis lirik lagu, puisi, cerpen, cerpan, novelette, dan novel.

Pelopor Pemanfaatan Diary
-Samuel Pepys—penulis kelahiran Inggris 23 Februari 1633, sosialisasikan diary sebagai sumber cerita, pada abad ke 17. Ia dijuluki ‘Bapak Diary’. Jejaknya diikuti Anne Frank yang menulis catatan hariannya berjudul The Diary of a young Girl Anne Frank. Buku ini menggoncang dunia sebagai buku sangat laris.





Jika Diary akan dijadikan cerita
- Gaya penulisan terarah dan terpola.
- Penggunaan bahasa – indah, lincah, kuat dan komunikatif.
-Ungkapkan dengan ekspresif –tidak sekedar menceritakan tetapi melukiskan.
- Cantumkan tanggal kejadian, tempat, siapa saja yng terlibat (tokoh-tokohnya).
-Detail (misalnya: busana, mood, food, drink, transportasi, sarana, fasilitas, dll).

Jika Diary dijadikan sumber cerita
-Ditulis dengan sejujurnya (tidak usah dimanipulasi) dan akan disunting seperlunya (sesuai keperluan).
- Peristiwa yang ditulis tidak diulang-ulang.
- Cantumkan orang-orang yang terkait dalam peristiwa yang terjadi – siapa yang termasuk antagonis, protagonis, atau paduan keduanya. Bahkan mungkin akan hadir sebagai tokoh aneh.
- Semua digali sebagai sumber cerita.

Jika Diary sebagai ‘keranjang sampah’
-Ada yang beranggapan diary sebagai rubishbin (keranjang sampah) – maka fungsinya benar-benar sebagai tempat untuk membuang ‘unek-unek perasaan’. Maka isinya tidak hanya sekedar curhat yang bersifat melankolis akan tetapi juga makian, umpatan, ancaman, hardikan, dan sejenisnya. Diary jenis ini biasanya untuk cawan penadah kemarahan. Fungsinya meredam emosi.

Genre cerita yang lahir dari Diary
-Romantis (fiksi)
- Melankolis (fiksi)
- Petualangan (fiksi dan nonfiksi).
- Otobiografi (nonfiksi/true story).
- Biografi (nonfiksi/true story).
- Feature Profile ( cerita tentang tokoh).
- Feature Story (kisah-kisah menarik).

Mengolah Diary sebagai Story
-Tentukan bentuknya: lirik lagu, cerpen, cerpan, novelette atau novel atau yang bersifat nonfiksi.
- Pilih bagian isi diary yang paling menarik pembaca jika dijadikan cerita.
- Polakan sebagai cerita sesuai bentuk yang dipilihh –fokus cerita fiksi.
- Utamakan unsure logika (masuk akal).
- Pikirkan, siapa sasaran pembacanya ?.
- Gunakan bahasa yang sesuai dengan target pembacanya.

Elemen Cerita
-Media – bahasa (modal kata-kata).
- Gaya penulisan.
-Gaya bertutur (sudut pandang).
- Plot.
-Struktur cerita.
- Setting.
- Tokoh.
- Konflik.
- Mood.

Diberi ‘ruh’ dan ‘sosok’
-Jika diary dijadika karya fiksi maka harus diberi ‘ruh’ dan ‘sosok’.
-Sumber ‘ruh’ dan ‘sosok’ adalah imajinasi dan curahan perasaan (buah dari olah rasa) – ini yang menghidupkan tulisan yang semula hanya biasa-biasa saja menjadi luar biasa (mengaduk-aduk perasaan pembaca).
- Ciptakan konflik (membuat pembaca gemas, benci, terharu, dan antipati).

Proses menulis
-Mapping Mind (menulis dalam kepala).
- Plotting.
- Cipta Judul (untuk merangsang imajinasi) – ideal terdiri atas 1-5 kata (catcthy).
-Mulai menulis cerita sangat pendek disebut flash  hanya 100-1000 kata, baru tingkatkan menulis cerpen dalam jumlah kata yang lebih banyak.
- Hindari membaca karya yang belum selesai.

Agar menulis lancar
-Menulis pada jam-jam produktif (the golden time) – masing-masing orang berbeda.
-Kenali diri Anda, sebagaiu pengarang ‘nafas pendek’ atau ‘nafas panjang’.
-Perlu dipahami, setiap orang punya cara tersendiri dalam ‘proses kreatif’.
- Hindari kebuntuan atau writer’s block.

Pendukung pengembangan menulis
-Banyak membaca (berbagai jenis bacaan).
-Banyak  bergaul/sosialisasi.
-Melakukan banyak perjalanan/travelling.
-Suka mendengar, suka mengamati, suka menganalisis untuk dipelajari dan mencipta.
- Tahan kritik.
-Tidak haus pujian.
-Punya ambisi memiliki karya.

Karya yang tidak disukai pembaca
-Gaya penulisannya bertele-tele.
-Ceritanya jumble (ruwet).
- Isinya menggurui.
- Terlalu banyak menggunakan flashback. Bahasa yang dipergunakan menulis dianggap kaku, sulit dipahami atau banyak menggunakan jargon/kata-kata asing.
- Menampilkan tokoh yang biasa, setting biasa, mengangkat tema biasa.

Ada pertanyaan ?
Silahkan e-mail ke funwritingyess2@gmail.com
@copyright Naning Pranoto 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar