ngalir gitu aja pas baca ini, serasa menyusuri jalan hidupku sendiri. ya kadang kita punya kisah yang sama, hanya beda cara mengekspresikannya. good luck for UA.
Dari ujung jalan itu, konon kau ingin menjumpaiku
tapi tak kauberi tahu kapan tiba aku kunjung kautemu
sebelum apaapa, kau memang sudah lama termangu
mungkin masih ragu menetapkan aku sebagai rindu
tapi siapa yang sebenarnya menunggu, kau atau aku
berangsur soal muncul; kita seteru atau sekutu?
Sudahlah, Zie. Wilayah yang sering kausebut sunyi,
--sampai kini masih kuhuni sebagai tempat sembunyi
Berkunjunglah ke ingatanmu, barangkali di sana ada aku
Meski kecemasan beruntun lebih dulu menguasaimu
sesekali kubayangkan kaulah yang menumbuhkan nisan
maka pertama kali kukenal kau bernama kematian
jika udara yang merekam suaramu melayang ke arahku
jangan larang, agar ketika sampai bisa kudengar gema hatimu
sebab denyut jantungmu adalah katakata yang tertunda
gaung-dengungnya senantiasa timbul tak terduga
Masalahnya memang jarak, meski tak sejauh laut dan ombak
Tapi betapa pun kita telak, perih telah menyentuh serempak
Mataku terpejam, menghayati kau sebagai masa silam
Tapi yang kudapat hanya pendar menjelang kelam
Siapa yang sebenarnya menunggu, kau atau aku
Setelah sekian waktu kita tak mampu saling tuju
kita sejenak mendamba lupa demi merenggang dari tegang
selebihnya menjelma hampa, melenggang ke segenap lengang
Dari jalan mana lagi kau akan menikung
Bila arah tempat kaumelangkah ada aral mengepung
Maka diam dan biar akulah yang menjemputmu
Walau kutahu kau adalah sumber dari seluruh ngilu
Aku pernah berujar boleh bila sekadar menghindar
Tapi bukan berarti kau musti mengekalkan tengkar
Lalu siapa yang sebenarnya akan membuka pintu, kau atau aku
Setelah mengira kalau sumpah telah muspra lebih dulu
Sudahlah, Zie. Masuklah ke wilayah yang sering kausebut sunyi,
---sudah waktunya kau bernyanyi, dan aku sudah letih sembunyi
Dan di pangkal jalan ini, akhirnya kita bertemu
Sudah itu pisah lalu lekas jadi masa lalu
16 maret 2013 kairo
Dari Ujung Jalan, puisi Usman Arrumy
Dari ujung jalan itu, konon kau ingin menjumpaiku
tapi tak kauberi tahu kapan tiba aku kunjung kautemu
sebelum apaapa, kau memang sudah lama termangu
mungkin masih ragu menetapkan aku sebagai rindu
tapi siapa yang sebenarnya menunggu, kau atau aku
berangsur soal muncul; kita seteru atau sekutu?
Sudahlah, Zie. Wilayah yang sering kausebut sunyi,
--sampai kini masih kuhuni sebagai tempat sembunyi
Berkunjunglah ke ingatanmu, barangkali di sana ada aku
Meski kecemasan beruntun lebih dulu menguasaimu
sesekali kubayangkan kaulah yang menumbuhkan nisan
maka pertama kali kukenal kau bernama kematian
jika udara yang merekam suaramu melayang ke arahku
jangan larang, agar ketika sampai bisa kudengar gema hatimu
sebab denyut jantungmu adalah katakata yang tertunda
gaung-dengungnya senantiasa timbul tak terduga
Masalahnya memang jarak, meski tak sejauh laut dan ombak
Tapi betapa pun kita telak, perih telah menyentuh serempak
Mataku terpejam, menghayati kau sebagai masa silam
Tapi yang kudapat hanya pendar menjelang kelam
Siapa yang sebenarnya menunggu, kau atau aku
Setelah sekian waktu kita tak mampu saling tuju
kita sejenak mendamba lupa demi merenggang dari tegang
selebihnya menjelma hampa, melenggang ke segenap lengang
Dari jalan mana lagi kau akan menikung
Bila arah tempat kaumelangkah ada aral mengepung
Maka diam dan biar akulah yang menjemputmu
Walau kutahu kau adalah sumber dari seluruh ngilu
Aku pernah berujar boleh bila sekadar menghindar
Tapi bukan berarti kau musti mengekalkan tengkar
Lalu siapa yang sebenarnya akan membuka pintu, kau atau aku
Setelah mengira kalau sumpah telah muspra lebih dulu
Sudahlah, Zie. Masuklah ke wilayah yang sering kausebut sunyi,
---sudah waktunya kau bernyanyi, dan aku sudah letih sembunyi
Dan di pangkal jalan ini, akhirnya kita bertemu
Sudah itu pisah lalu lekas jadi masa lalu
16 maret 2013 kairo
Tidak ada komentar:
Posting Komentar