Sabtu, 17 Agustus 2013

Dari Ujung Jalan, puisi Usman Arrumy

 ngalir gitu aja pas baca ini, serasa menyusuri jalan hidupku sendiri. ya kadang kita punya kisah yang sama, hanya beda cara mengekspresikannya. good luck for UA.

Dari Ujung Jalan, puisi Usman Arrumy


Dari ujung jalan itu, konon kau ingin menjumpaiku
tapi tak kauberi tahu kapan tiba aku kunjung kautemu

sebelum apaapa, kau memang sudah lama termangu
mungkin masih ragu menetapkan aku sebagai rindu

tapi siapa yang sebenarnya menunggu, kau atau aku
berangsur soal muncul; kita seteru atau sekutu?

Sudahlah, Zie. Wilayah yang sering kausebut sunyi,
--sampai kini masih kuhuni sebagai tempat sembunyi

Berkunjunglah ke ingatanmu, barangkali di sana ada aku
Meski kecemasan beruntun lebih dulu menguasaimu

sesekali kubayangkan kaulah yang menumbuhkan nisan
maka pertama kali kukenal kau bernama kematian

jika udara yang merekam suaramu melayang ke arahku
jangan larang, agar ketika sampai bisa kudengar gema hatimu

sebab denyut jantungmu adalah katakata yang tertunda
gaung-dengungnya senantiasa timbul tak terduga

Masalahnya memang jarak, meski tak sejauh laut dan ombak
Tapi betapa pun kita telak, perih telah menyentuh serempak

Mataku terpejam, menghayati kau sebagai masa silam
Tapi yang kudapat hanya pendar menjelang kelam

Siapa yang sebenarnya menunggu, kau atau aku
Setelah sekian waktu kita tak mampu saling tuju

kita sejenak mendamba lupa demi merenggang dari tegang
selebihnya menjelma hampa, melenggang ke segenap lengang

Dari jalan mana lagi kau akan menikung
Bila arah tempat kaumelangkah ada aral mengepung

Maka diam dan biar akulah yang menjemputmu
Walau kutahu kau adalah sumber dari seluruh ngilu

Aku pernah berujar boleh bila sekadar menghindar
Tapi bukan berarti kau musti mengekalkan tengkar

Lalu siapa yang sebenarnya akan membuka pintu, kau atau aku
Setelah mengira kalau sumpah telah muspra lebih dulu

Sudahlah, Zie. Masuklah ke wilayah yang sering kausebut sunyi,
---sudah waktunya kau bernyanyi, dan aku sudah letih sembunyi

Dan di pangkal jalan ini, akhirnya kita bertemu
Sudah itu pisah lalu lekas jadi masa lalu



16 maret 2013 kairo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar