Sabtu, 17 Agustus 2013

Senyawa Cinta, puisi Usman Arrumy

Oleh: Usman Arrumy

Atas nama cinta
mengalir tinta menjelma kata
setelah berdenyut di ujung pena;
sebagai upaya mewujudkan makna

Sebelum jadi puisi,
katakata bersamadi di dalam angan
menempa diri menghayati keperihan
lalu digubah melalui renungan
dikumandangkan kesunyian
digemakan siang-malam:

Kadang cinta bagai khuldi yang menyebabkan Adam ke bumi
menandai penderitaan dimulai, isyarat sepi bakal dirasai

aku mencintaimu; sepasrah labalaba membentang di mulut goa
sejujur burung hudhud menyampaikan surat ke negeri saba
sesabar bongkah batu mengandung seekor unta betina
setabah ikan nun di laut luas pada masa kaum ninawa

Adakalanya cinta serupa lengkung jemparing arjuna
siaga membidik benda, menumpu rindu selembut rumbia

Aku mencintaimu; sesantun api membakar tubuh Ibrahim
bagai ruang, cintaku setentram penjara tempat Yusuf mukim
sesopan tongkat membelah lautan demi dibuat jalan Musa
bagai jarak, cintaku sejauh jejak langkah pengembaraan Isa
sepenuh purnama mengurai diri di lengan Muhammad
bagai suara, cintaku seriang seruling Daud  mengalun hikmat

Sekali kala cinta terungkap melalui gerak waktu
menjadi rahasia yang akan dinyatakan perilaku
mungkin seliar geliat nafsu menyentuh kalbu
atau sekhusuk para sufi menahan hasrat tabu

Sesekali cinta seumpama selendang dewi kahyangan
dongeng anak kecil untuk meninabobokkan

Mungkin cinta adalah cangkir yang butuh dimasuki kopi
wasiat bertuah yang rapi tersimpan di lubuk guci
selembar kertas ruang semayam berbait puisi
sehampar sawah letak petani menandur padi

Aku ingin menjadi jantung tempat cintamu berdenyut
atau menjadi liang-lahat manakala sakaratulmaut

Mungkin ada namaku-namamu berpijar di ujung sana
tersemat di antara bermiliaran aksara:
di lauh mahfud--papan tempat terukir seluruh takdir
kita akan berdesir, semenjak kali pertama hadir
hingga kelak waktu berakhir

Kini kau sendirian di langit dan aku sendirian di bumi
padahal kita sudah samasama murni mencintai
seperti surga dan neraka, kau-aku tak sanggup sua
cuma bisa saling damba dalam doa,
tapi semoga sukma kita tetap senyawa

Kairo, 6 february 2013


* Puisi pertama di tahun 2013 justru tertulis di hari lahirku, 6 february. Hari ini adalah tepat 23 tahun yang lalu aku lahir. dan sudah 10 tahun aku tidak berada di samping Ibuk tiap kali tanggal 6 february. Puisi ini dalam rangka merayakannya, sebab tidak ada yang memberi hadiah, maka kuhadiahkan puisi ini kepada seluruh penghuni semesta :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar